Sejak kecil, mereka sudah dibiasakan untuk mengenakan kalung dari kuningan di lehernya. Biasanya, kalung itu mulai dipakai saat anak-anak berusia 5 tahun.
Semakin lama, jumlah gulungannya ditambah, dan itu akan membuat kalung menjadi semakin berat. Beratnya tidak tanggung-tanggung, yaitu mencapai 10 kg.
Dengan beban yang berat, bahu para perempuan itu akan tertekan sehingga akan memperlihatkan bentuk leher yang lebih panjang.
Perempuan-perempuan suku Kayan jarang melepaskan kalungnya, karena anggapan bahwa melepas kalung seperti telanjang. Di dunia modern sekarang ini, kebiasaan ini sudah mulai ditinggalkan, kecuali para istri pemuka adat.
Kalung kuningan yang berat hanya digunakan saat pelaksanaan upacara-upacara adat, untuk menjaga tradisi saja.
Sumber


